PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) mencatat laba bersih Rp706,98 juta sepanjang 2025. Angka itu tumbuh 10,36 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp640,58 juta, meski pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan.
Kinerja tersebut dipaparkan Direktur Utama NTBK, Bambang Susilo dalam Public Expose di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026. Emiten berkode saham NTBK itu mulai mengandalkan efisiensi dan ekspansi kendaraan listrik untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan pasar.
Pendapatan NTBK Turun, Laba Justru Menguat
Sepanjang 2025, pendapatan NTBK tercatat Rp96,58 miliar atau turun 8,44 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp105,48 miliar.
Penurunan itu terjadi di tengah perlambatan sejumlah sektor industri yang menjadi pasar utama perusahaan. Namun di saat bersamaan, NTBK berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp77,54 miliar dari sebelumnya Rp89,11 miliar.
Hasilnya, laba kotor justru meningkat menjadi Rp19,04 miliar dari Rp16,37 miliar pada akhir 2024.
Di ruang-ruang publik pasar modal, situasi seperti ini sering dianggap sinyal penting. Beberapa analis melihat perusahaan mulai lebih disiplin menjaga biaya operasional dibanding sekadar mengejar pertumbuhan penjualan agresif.
Beban usaha NTBK tercatat Rp16,88 miliar, naik dari Rp15,12 miliar. Meski demikian, laba usaha perusahaan masih meningkat menjadi Rp2,16 miliar dari sebelumnya Rp1,25 miliar.
Pendapatan lain-lain juga melonjak menjadi Rp1,34 miliar dari Rp926,79 juta. Namun, beban lain-lain ikut membengkak menjadi Rp2,19 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp1,12 miliar.
NTBK Bidik Peluang dari Kendaraan Listrik dan Tambang
Di tengah tekanan pendapatan, NTBK mulai memindahkan fokus pertumbuhan ke tiga sektor utama: manufaktur dan infrastruktur, kendaraan listrik, serta pertambangan.
Perusahaan menilai pembangunan infrastruktur nasional masih membuka peluang permintaan kendaraan dan alat berat.
Selain itu, berkembangnya ekosistem kendaraan listrik nasional ikut menjadi ruang ekspansi baru. Dukungan pemerintah terhadap energi baru membuat bisnis EV dipandang lebih menjanjikan dalam beberapa tahun mendatang.
“Dengan strategi ekspansi dan diversifikasi ini, Perseroan optimistis dapat meningkatkan kinerja usaha secara berkelanjutan,” ujar Bambang Susilo.
Dari sisi neraca, total aset NTBK tercatat Rp158,31 miliar, turun dari Rp168,64 miliar pada akhir 2024. Liabilitas juga turun menjadi Rp63,44 miliar dari Rp73,29 miliar.
Sementara total ekuitas tercatat Rp94,86 miliar, sedikit turun dibanding akhir tahun sebelumnya sebesar Rp95,35 miliar.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto































