Satu - Satunya Tampil Beda, Koran Politik Paling Berani Mengkritik Terpanas dan Perang Terhadap Koruptor, Narkoba, Teroris Musuh Rakyat ~~~~~>>>>> Kami Menerima Artikel, Opini, Berita Kegiatan, Iklan Pariwara dapat mengirimkannya melalui email dutanusantaramerdeka@yahoo.co.id

Hubungan Beda Usia 51 Tahun Diana Montano Viral, Ini Faktanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Hubungan beda usia 51 tahun yang dijalani Diana Montano (25) dengan pria bernama Edgar (76) mendadak viral di media sosial. Video yang diunggah lewat TikTok itu menembus 9,2 juta penayangan dalam waktu singkat, memicu gelombang komentar tajam sekaligus dukungan.

Unggahan tersebut memperlihatkan keduanya berdansa di depan koleksi mobil mewah, termasuk Porsche berwarna perak. Namun, alih-alih sekadar jadi tontonan ringan, video ini berubah jadi arena debat soal motif, etika, dan batasan relasi personal.

Hubungan Beda Usia Jadi Sorotan

Diana Montano tidak asing dengan konten bertema hubungan beda usia. Melalui akun TikTok-nya, ia rutin membagikan momen bersama Edgar. Dalam video yang viral, keduanya tampak santai, berpelukan, bahkan berbagi ciuman.

Respons publik datang cepat dan keras. Sebagian pengguna menyebut hubungan itu “mengganggu”. Tuduhan lebih jauh bahkan mengarah pada motif ekonomi, menilai Diana hanya mengincar harta.

Komentar lain menyinggung aspek keluarga, menyarankan adanya perjanjian pranikah demi melindungi pihak Edgar. Narasi seperti ini jamak muncul ketika relasi terpaut usia ekstrem masuk ruang publik.

Saya pernah menemui kasus serupa saat meliput fenomena “sugar relationship” beberapa tahun lalu. Polanya hampir sama: publik cepat menghakimi, sementara cerita personal para pelaku seringkali lebih kompleks dari yang terlihat.

Penjelasan Diana dan Respons Publik

Diana mencoba meredam spekulasi. Ia menegaskan bahwa keputusannya murni personal. “Orang tua saya memberi kebebasan untuk memilih,” ujarnya dalam salah satu unggahan.

Ia juga menekankan alasan utama menjalin hubungan dengan Edgar adalah kepribadian. Menurutnya, sang pasangan bersikap baik dan pengertian—dua hal yang jarang disorot dalam perdebatan publik.

Meski begitu, angka interaksi menunjukkan betapa sensitifnya isu ini. Video tersebut mengumpulkan lebih dari 902 ribu suka, 7.800 komentar, dan dibagikan lebih dari 260 ribu kali.

Di titik ini, perdebatan tak lagi soal dua individu, melainkan benturan nilai sosial. Sebagian melihatnya sebagai hak personal, sebagian lain menganggapnya melanggar norma.

Fenomena ini mencerminkan satu hal: media sosial bukan sekadar ruang berbagi, tapi juga arena pengadilan publik yang sering kali tanpa konteks utuh.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Dream Date Idol Jepang Rp60 Juta Picu Dugaan Penipuan


Duta Nusantara Merdeka | Jepang 
Seorang pria di Jepang mengeluarkan sekitar Rp60 juta untuk paket “dream date” bersama idol Touka Toozuki. Acara itu berlangsung seharian, mencakup kunjungan ke Disneyland, makan bersama, hingga sesi foto, dengan pendamping tambahan yang diperkenalkan sebagai bodyguard.

Namun beberapa hari setelahnya, pria tersebut mulai curiga. Ia menduga sosok bodyguard itu bukan sekadar pengawal, melainkan suami Touka Toozuki. Kecurigaan itu memicu perasaan tertipu secara emosional karena pengalaman yang ia bayangkan tidak sesuai kenyataan.

Dugaan Ketidaksesuaian Ekspektasi

Kisah ini cepat menyebar di media sosial Jepang dan memicu diskusi panjang. Banyak yang mempertanyakan batas antara layanan hiburan berbasis fantasi dengan transparansi kehidupan pribadi idol.

Di industri idol Jepang, konsep “kedekatan semu” memang sudah lama jadi daya tarik. Penggemar membeli ilusi hubungan personal, meski sadar ada batas yang tak selalu dijelaskan terang-terangan.

Saya pernah berbincang dengan seorang penggemar budaya pop Jepang di Jakarta. Ia mengaku rela menabung berbulan-bulan demi menghadiri acara meet-and-greet idol favoritnya. “Yang dibeli itu bukan orangnya, tapi perasaan spesialnya,” katanya. Kasus ini menunjukkan, ketika ilusi itu retak, dampaknya bisa lebih dari sekadar kecewa.

Klarifikasi dan Dampak ke Industri

Touka Toozuki akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa saat kejadian, dirinya sudah tidak lagi aktif sebagai idol, melainkan bekerja sebagai influencer. Ia juga tidak mengonfirmasi status pernikahannya.

Penjelasan ini justru memperluas perdebatan. Sebagian publik menilai tidak ada pelanggaran karena hubungan personal adalah ranah privat. Namun sebagian lain melihat adanya celah etika, terutama jika pengalaman yang dijual mengandalkan imajinasi kedekatan romantis.

Kasus ini mempertegas dilema lama dalam industri hiburan Jepang: seberapa jauh fantasi boleh dijual tanpa melanggar ekspektasi konsumen. Di satu sisi, ini bisnis berbasis pengalaman. Di sisi lain, ada garis tipis antara hiburan dan persepsi yang bisa dianggap menyesatkan.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Dony Oskaria Dorong Elektrifikasi Kereta Nasional


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mendorong percepatan elektrifikasi kereta nasional saat kunjungan kerja ke PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Bandung, Senin (20/04/2026). Program ini difokuskan pada jalur strategis di wilayah Jabodetabek.

Elektrifikasi kereta nasional dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi transportasi, menekan emisi, serta memperkuat konektivitas antarwilayah. Pemerintah menargetkan sistem mobilitas yang lebih modern dan berkelanjutan.

Elektrifikasi Kereta Nasional Jadi Fokus Transformasi

Dalam pertemuan tersebut, Dony Oskaria menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap transformasi transportasi massal. Ia menyebut KAI akan menjadi lokomotif utama perubahan di sektor ini.

“Nah ini sudah berpuluh tahun, kita berharap tentu di tangan Presiden Prabowo, transformasi di sisi transportasi massal ini akan terjadi,” ujar Dony.

Tiga jalur utama menjadi prioritas elektrifikasi: Jakarta–Cikampek, Jakarta–Cigombong, dan Jakarta–Rangkasbitung. Jalur ini dipilih karena volume penumpang tinggi dan perannya dalam konektivitas ekonomi.

Saya sempat berbincang dengan seorang pengguna KRL di Stasiun Manggarai beberapa bulan lalu. Keluhannya sederhana: perjalanan sering padat dan belum efisien. Elektrifikasi, jika konsisten dijalankan, bisa jadi jawaban yang lama ditunggu.

Selain elektrifikasi, pemerintah juga membahas peningkatan kapasitas sarana, termasuk penggantian lokomotif lama dan modernisasi teknologi perkeretaapian.

Modernisasi KAI dan Dampak Ekonomi

Upaya transformasi tidak berhenti pada infrastruktur. BP BUMN juga mendorong penataan anak usaha KAI, termasuk penguatan angkutan barang melalui KAI Logistik dan kerja sama dengan INKA.

Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan daya saing sektor perkeretaapian nasional, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi di wilayah yang terhubung jalur kereta.

Di sisi lain, prinsip tata kelola menjadi sorotan. Transformasi BUMN, menurut Dony, harus transparan dan akuntabel agar berdampak langsung pada masyarakat.

Direksi KAI menyatakan kesiapan untuk menjalankan pembaruan tersebut. Mereka menargetkan sistem transportasi yang lebih aman, andal, dan efisien.

Jika ditarik lebih luas, elektrifikasi kereta nasional bukan sekadar proyek teknis. Ini bagian dari strategi jangka panjang menuju transportasi rendah emisi.

Saya melihat pola ini berulang dalam banyak proyek infrastruktur: ambisi besar sering tersendat di eksekusi. Tantangannya kini bukan lagi konsep, tapi konsistensi pelaksanaan di lapangan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Pemprov Kalsel Tambah Tenaga Ahli, Efisiensi Anggaran Dipertanyakan


Duta Nusantara Merdeka | Banjar Baru 
Di tengah kebijakan pengetatan anggaran pemerintah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan justru menambah tenaga ahli gubernur. Kebijakan ini menuai sorotan karena berpotensi menambah beban belanja pegawai di APBD.

Langkah tersebut dipertanyakan publik dan pemerhati kebijakan, terutama karena dilakukan saat pemerintah pusat mendorong efisiensi pengeluaran. Kritik datang dari Pembina DPP Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), Junaidi.

Kebijakan Tambahan Tenaga Ahli Dipersoalkan

Junaidi menilai penambahan tenaga ahli gubernur tidak sejalan dengan semangat efisiensi. Menurut dia, kebijakan ini justru berpotensi memperlebar beban anggaran daerah.

“Perlu adanya keterbukaan dari pemprov terkait hal ini kepada masyarakat dengan menjelaskan tingkat urgensi menambah staf khusus,” ujar Junaidi.

Ia menekankan, transparansi menjadi kunci. Tanpa penjelasan yang memadai, publik sulit memahami dasar kebutuhan tenaga ahli tambahan tersebut.

Saya teringat satu obrolan dengan seorang pegawai daerah beberapa waktu lalu. Ia mengeluh soal anggaran yang makin ketat, bahkan untuk program dasar. Di saat bersamaan, muncul kabar penambahan staf khusus. Kontrasnya terasa.

Junaidi juga meminta DPRD tidak pasif. Ia menilai lembaga legislatif seharusnya menggunakan fungsi pengawasan untuk mempertanyakan kebijakan tersebut secara terbuka.

Manfaat Dipertanyakan, Regulasi Disinggung

Lebih jauh, Junaidi menilai jumlah tenaga ahli yang sudah ada sebenarnya sudah berlebihan. Ia menyebut fungsi dan tugas mereka pun belum jelas di mata publik.

Penambahan tenaga ahli baru, menurut dia, juga diragukan manfaatnya. Apalagi jika diisi oleh kalangan pensiunan tanpa indikator kinerja yang terukur.

“Kebijakan ini tentu bertentangan dengan aturan Badan Kepegawaian Negara (BKN), dan Peraturan Menteri Dalam Negeri,” kata Junaidi.

Di titik ini, persoalannya bukan sekadar jumlah orang. Tapi soal akuntabilitas dan relevansi. Apakah tenaga ahli benar-benar memberi nilai tambah, atau hanya memperpanjang daftar belanja rutin?

Dalam banyak kasus, jabatan staf khusus sering kali menjadi ruang abu-abu. Tidak selalu jelas output-nya, tapi pasti ada konsekuensi anggarannya.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Bea Cukai Banten Musnahkan Barang Ilegal Rp34 Miliar


Duta Nusantara Merdeka | Tangerang 
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Banten memusnahkan barang ilegal senilai Rp34,81 miliar di Tangerang, Selasa (21/04/2026). Barang tersebut merupakan hasil penindakan kepabeanan dan cukai sepanjang triwulan pertama 2026.

Pemusnahan dilakukan bersama Kejaksaan Negeri Lebak dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara. Langkah ini ditujukan untuk menekan kerugian negara dari peredaran barang ilegal, terutama rokok tanpa cukai.

Pemusnahan Barang Ilegal Rp34 Miliar di Banten

Kepala Kanwil DJBC Banten, Ambang Priyonggo, menegaskan pemusnahan ini bagian dari fungsi Bea Cukai sebagai community protector. Barang yang dimusnahkan meliputi rokok ilegal, minuman keras, hingga rokok elektrik.

Total barang yang dihancurkan mencapai 26 juta batang rokok ilegal, dengan nilai Rp34,22 miliar. Potensi kerugian negara dari sisi cukai diperkirakan menembus Rp24,33 miliar.

“Ini bukti komitmen kita bersama dalam menekan peredaran barang ilegal,” ujar Ambang Priyonggo dalam konferensi pers di Tangerang, Selasa (21/4/2026).

Selain barang hasil penindakan Bea Cukai, turut dimusnahkan barang rampasan perkara dari Kejaksaan Negeri Lebak. Jumlahnya 400 ribu batang rokok ilegal senilai Rp594 juta.

Kinerja Pengawasan dan Target Penerimaan

Sepanjang 2025, DJBC Banten mencatat 920 kali penindakan. Hasilnya, 82,4 juta batang rokok ilegal berhasil diamankan, disusul ribuan liter minuman beralkohol.

Dari sisi penerimaan, Bea Cukai Banten membukukan Rp6,52 triliun atau 104,26 persen dari target. Cukai menjadi penyumbang terbesar, mencapai Rp3,47 triliun.

Memasuki 2026, target meningkat menjadi Rp6,53 triliun. Hingga akhir Maret, realisasi baru mencapai Rp1,4 triliun atau 21,49 persen.

Ambang mengakui tantangan tahun ini tidak ringan. Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Teluk Hormuz, berdampak pada arus perdagangan dan penerimaan negara.

Di sisi lain, penindakan tetap berjalan. Hingga 15 April 2026, Bea Cukai Banten telah melakukan 220 penindakan, termasuk penyitaan 22,53 juta batang rokok ilegal.

Pemusnahan dilakukan menggunakan tanur bersuhu 1.500–1.800 derajat Celsius di fasilitas industri semen. Metode ini dipilih agar barang hancur total tanpa menyisakan limbah.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Dari Karyawan ke CEO: Cara Vivi Xiao Bangun Tim AI


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membangun “karyawan digital” mulai mencuri perhatian di kalangan profesional teknologi. Salah satu contoh datang dari Vivi Mengxie Xiao, AI Product Manager asal China, yang mengembangkan sistem kerja berbasis OpenClaw untuk meningkatkan produktivitas.

Melalui pendekatan ini, Vivi tidak sekadar memakai AI sebagai alat bantu, melainkan membangun enam peran virtual yang bekerja layaknya tim internal. Strategi karyawan AI dengan OpenClaw ini mendorong efisiensi sekaligus mengubah pola kerja individu menjadi berbasis sistem.

Transformasi Kerja: Dari Individu ke Sistem AI

Sebelum mengadopsi sistem ini, Vivi menghabiskan sekitar empat jam per hari untuk pekerjaan repetitif. Aktivitasnya mencakup riset berita industri AI, membaca berbagai sumber global, serta menerjemahkan konten berbahasa Inggris ke Mandarin.

Kini, sekitar 60 hingga 70 persen tugas tersebut telah diotomatisasi. Ia membangun enam “karyawan AI” dengan fungsi berbeda, mulai dari administrative assistant hingga research analyst dan finance assistant.

Pendekatan ini membuat alur kerja lebih terstruktur. Tugas yang sebelumnya memakan waktu kini berjalan paralel. Output meningkat, tanpa harus menambah sumber daya manusia secara konvensional.

Saya pernah melihat pola serupa pada seorang editor digital yang mulai memakai automation tools sederhana. Dalam beberapa bulan, ritme produksinya berubah drastis—bukan karena bekerja lebih keras, tetapi karena sistemnya lebih rapi.

Produktivitas Naik, Waktu Kerja Ikut Bergeser

Namun, peningkatan produktivitas tidak selalu diikuti efisiensi waktu. Dalam kasus Vivi, justru terjadi sebaliknya. Jam kerjanya semakin panjang karena kapasitas output ikut meningkat.

“Waktu tidur saya bergeser dari tengah malam menjadi jam 2 pagi karena selalu ada satu hal lagi yang ingin saya kerjakan,” ujar Vivi Mengxie Xiao dalam pengakuannya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI tidak otomatis mengurangi beban kerja. Sebaliknya, ia memperbesar kapasitas produksi, yang pada akhirnya mendorong individu untuk terus menambah aktivitas.

Seorang analis data di Jakarta pernah mengungkap hal serupa. Setelah memakai automation, pekerjaannya selesai lebih cepat, tapi targetnya langsung dinaikkan. Ritmenya berubah, bukan berkurang.

Dampak: Bekerja Bukan Lagi Soal Tenaga, Tapi Sistem

Perubahan ini menandai pergeseran mendasar dalam dunia kerja. Fokus tidak lagi pada seberapa keras seseorang bekerja, melainkan seberapa efektif sistem yang dibangun.

Strategi karyawan AI dengan OpenClaw membuka kemungkinan baru: individu bisa memiliki kapasitas setara tim. Namun, tanpa kontrol, peningkatan ini justru memperpanjang jam kerja.

Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, tetapi bagaimana manusia mengelola sistem yang mereka bangun sendiri.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

8 Tips Mencegah Kanker yang Terbukti Ilmiah dan Praktis


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Tips Mencegah Kanker Secara Ilmiah kembali jadi sorotan setelah riset global menunjukkan 30–50 persen kasus bisa dicegah. Data ini dirilis lembaga seperti World Cancer Research Fund dan Harvard Medical School dalam satu dekade terakhir.

Di tengah tren gaya hidup sedentari dan konsumsi makanan olahan, para peneliti menilai risiko kanker meningkat diam-diam. Pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur disebut menjadi faktor penentu sejak dini.

Pola Hidup Modern dan Risiko Tersembunyi

Kanker tidak muncul mendadak. Ia berkembang perlahan, sering kali tanpa gejala, dipicu akumulasi kebiasaan harian yang tampak sepele.

Makanan ultra-proses, paparan polusi, hingga stres kronis mempercepat pertumbuhan sel abnormal. Dalam banyak kasus, orang baru sadar ketika penyakit sudah berada di tahap lanjut.

Saya pernah berbincang dengan seorang rekan jurnalis yang rutin begadang dan mengandalkan makanan instan. Ia merasa sehat, sampai hasil medical check-up menunjukkan penanda risiko yang meningkat drastis.

Riset menunjukkan, peningkatan 10 persen konsumsi makanan olahan berkaitan dengan lonjakan risiko kematian dini hingga 14 persen. Ini bukan angka kecil.

Delapan Kebiasaan Kunci Pencegahan Kanker

Pendekatan pencegahan sebenarnya sederhana, tapi konsistensi jadi tantangan utama. Berikut pola yang direkomendasikan berbasis riset:

Pertama, konsumsi makanan utuh seperti sayur, buah, tempe, dan ikan. Pola ini terbukti menurunkan risiko kanker usus hingga 30 persen.

Kedua, batasi makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak trans.

Ketiga, paparan sinar matahari pagi membantu produksi vitamin D yang berperan penting dalam perlindungan sel.

Keempat, tidur 7–8 jam per malam. Hormon melatonin yang diproduksi saat tidur membantu menghambat pertumbuhan sel kanker.

Kelima, aktivitas fisik minimal 20 menit sehari. Bahkan jalan kaki ringan terbukti menurunkan risiko kanker payudara dan kolon.

Keenam, kelola stres. Teknik sederhana seperti pernapasan dalam dapat menekan hormon kortisol yang memicu inflamasi.

Ketujuh, batasi gula, garam dan alkohol yang dapat mempercepat pertumbuhan sel abnormal.

Kedelapan, bangun relasi sosial yang sehat. Studi menunjukkan sistem imun lebih aktif pada individu dengan dukungan sosial kuat.

Seorang dokter yang saya temui pernah menyederhanakan ini dengan kalimat ringan: “Tubuh itu mencatat semua kebiasaan kita, bukan cuma yang ekstrem.”

Dampak Jangka Panjang dan Kesadaran Publik

Upaya pencegahan sering kalah oleh gaya hidup instan. Padahal, perubahan kecil yang konsisten memberi dampak besar dalam jangka panjang.

Organisasi kesehatan global menekankan bahwa kanker bukan hanya persoalan genetik, melainkan kombinasi faktor lingkungan dan kebiasaan.

Kesadaran ini penting, terutama di negara berkembang yang tengah mengalami pergeseran pola hidup cepat.

Pada akhirnya, Tips Mencegah Kanker Secara Ilmiah bukan sekadar daftar anjuran, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang dimulai dari keputusan harian.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Paguyuban Peniron Kebumen Gelar Halal Bihalal Jakarta


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen di perantauan menggelar Halal Bihalal, gelar seni budaya, dan bazar UMKM di Jakarta, Minggu, 19 April 2025. Kegiatan ini diikuti warga dari Jabodetabek, Bandung, hingga Banten.

Acara tahunan ini bertujuan memperkuat silaturahmi antarperantau sekaligus menggerakkan ekonomi warga melalui sektor UMKM yang ikut meramaikan kegiatan.

Silaturahmi dan Konsolidasi Warga Perantauan

Ketua Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen, Sarwadi, menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan dalam komunitas perantau. “Kegiatan ini rutin kami gelar untuk mempererat hubungan dan menjaga kekompakan warga Peniron di luar daerah,” ujarnya.

Menurut dia, partisipasi warga cukup tinggi meski belum sepenuhnya hadir sejak awal acara. Sekitar 65 persen peserta tercatat sudah datang, sementara lainnya masih dalam perjalanan.

Dalam praktiknya, paguyuban ini terdiri dari sejumlah kelompok wilayah seperti Watu Cagak Franji, Perwaji, hingga Karangduren. Total sekitar 10 kelompok masih aktif dari sebelumnya 14 kelompok.

Saya sempat berbincang dengan salah satu peserta yang datang dari Tangerang. Ia mengaku acara seperti ini bukan sekadar temu kangen, tapi juga ruang membangun jaringan sosial. “Kadang dari sini bisa dapat relasi kerja atau usaha,” katanya.

UMKM dan Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Komunitas

Selain silaturahmi, kegiatan ini juga menampilkan seni budaya dari Sanggar Tri Manunggal Sari serta bazar UMKM yang didukung Geo UMKM.

Stan UMKM terlihat penuh sejak pagi. Produk makanan hingga kerajinan lokal menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang bersama keluarga.

Sarwadi berharap kegiatan ini memberi dampak ekonomi langsung bagi warga. “Kami ingin UMKM yang ikut bisa berkembang dan mendapatkan rezeki yang berkah,” ujarnya.

Di sisi lain, acara ini juga menjadi ruang pelestarian budaya daerah. Pertunjukan seni tradisional dihadirkan untuk menjaga identitas asal di tengah kehidupan kota besar.

Seorang pengunjung lain mengaku datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi juga mencari produk khas kampung halaman. “Rasanya seperti pulang sebentar,” ujarnya sambil tersenyum.

Paguyuban menilai kegiatan ini akan terus dilanjutkan setiap tahun. Selain menjaga hubungan sosial, forum ini juga menjadi sarana diskusi bersama jika muncul persoalan di antara warga.

Dengan model kolaborasi antar kelompok, paguyuban berharap semakin banyak warga Peniron di perantauan bergabung dan memperkuat solidaritas komunitas.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 




Share:

Dadiyono Hadiri Halal Bihalal Peniron Kebumen Jakarta


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2024–2029 dari Fraksi Partai Golkar, Dadiyono, menghadiri Halal Bihalal Paguyuban Keluarga Besar Peniron Kebumen di Jakarta, Minggu, 19 April 2025. Ia menyoroti pentingnya menjaga solidaritas warga perantauan.

Acara yang diikuti warga dari Jabodetabek, Bandung, hingga Banten ini juga dirangkaikan dengan gelar seni budaya dan bazar UMKM sebagai penggerak ekonomi komunitas.

Dadiyono Tekankan Soliditas dan Peran Politik

Dalam sambutannya, Dadiyono mengapresiasi konsistensi warga Peniron dalam menjaga budaya dan kebersamaan di perantauan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk nyata “nguri-uri” tradisi daerah.

“Ini luar biasa, semangat kebersamaan warga Peniron di perantauan tetap terjaga,” ujar Dadiyono di hadapan peserta.

Ia juga menyinggung pentingnya keterwakilan politik bagi daerah asal. Menurut dia, Peniron membutuhkan figur yang bisa memperjuangkan aspirasi di level legislatif.

“Peniron butuh sosok yang duduk di DPRD. Kalau ada yang siap, partai siap memfasilitasi,” ujarnya, disambut respons peserta yang antusias.

Saya sempat berdiri di barisan tengah saat momen itu. Reaksi audiens terasa spontan—bukan sekadar seremoni, tapi ada harapan nyata soal representasi daerah.

Tantangan Anggaran dan Harapan bagi Desa

Dadiyono juga menyoroti keterbatasan anggaran desa yang diperkirakan semakin ketat ke depan. Ia meminta pemerintah desa aktif membangun komunikasi dengan pemerintah daerah hingga pusat.

“Ruang fiskal makin terbatas. Tapi komunikasi dan ikhtiar harus tetap jalan,” katanya.

Menurut dia, peran DPRD menjadi penting untuk menjembatani aspirasi warga, termasuk masyarakat perantauan yang tinggal di Jakarta.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa Jakarta sebagai kota majemuk harus menjadi ruang bersama bagi semua latar belakang, termasuk warga asal Kebumen.

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh paguyuban seperti Ketua Panitia Suradi, Ketua PKB PK Suwarti, serta sesepuh Sukarjo.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi melalui UMKM dan memperkuat identitas budaya daerah di tengah kehidupan kota besar.

Seorang peserta yang saya temui di area bazar mengaku datang bukan hanya untuk bertemu kerabat. “Ini tempat kami merasa tetap punya akar, walau hidup di Jakarta,” ujarnya.

Paguyuban berharap kegiatan ini terus berlanjut setiap tahun sebagai ruang konsolidasi sosial dan ekonomi warga Peniron di perantauan.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Bank Indonesia Uji CBDC, Apa Risiko Rupiah Digital


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Bank Indonesia mulai menguji coba rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) secara terbatas sejak 2025. Program ini bagian dari Proyek Garuda yang diluncurkan pada 2022 sebagai fondasi sistem pembayaran masa depan.

CBDC berbeda dari dompet digital seperti GoPay atau QRIS. Ini adalah uang resmi yang diterbitkan langsung oleh bank sentral, dengan karakteristik bisa dilacak dan berpotensi diprogram.

Proyek Garuda dan Arah Baru Sistem Pembayaran

Bank Indonesia menempatkan CBDC sebagai prioritas dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025–2030. Uji coba ritel kini mulai diperluas, meski masih dalam tahap awal.

Secara global, tren ini bukan hal baru. Lebih dari 80 persen bank sentral dunia tengah mengkaji atau mengembangkan CBDC. China, Nigeria, dan Bahama sudah lebih dulu melangkah.

Saya sempat berbincang dengan seorang pelaku UMKM di Jakarta. Ia mengira QRIS sudah cukup “canggih”. Begitu dijelaskan soal CBDC, reaksinya sederhana: “Berarti semua transaksi saya nanti kelihatan?”

Di situlah perbedaannya terasa. Uang tunai bersifat anonim. CBDC, sebaliknya, meninggalkan jejak digital yang sistematis.

Antara Efisiensi dan Kontrol Data

CBDC menawarkan efisiensi: transaksi cepat, biaya rendah, dan distribusi bantuan sosial lebih tepat sasaran. Namun ada sisi lain yang mulai diperdebatkan.

Konsep “programmable money” memungkinkan uang diberi batas penggunaan. Misalnya hanya untuk kebutuhan tertentu atau memiliki masa berlaku.

Di sisi kebijakan, ini memberi alat baru bagi bank sentral untuk mengatur ekonomi. Tapi di sisi pengguna, muncul kekhawatiran soal privasi dan kontrol.

Indonesia juga terlibat dalam proyek lintas negara seperti mBridge bersama China, Hong Kong, Thailand, dan Uni Emirat Arab. Tujuannya mempercepat transaksi internasional berbasis CBDC.

Namun integrasi ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: sejauh mana kedaulatan data finansial tetap terjaga?

Pengalaman Nigeria menjadi contoh yang sering disorot. Pembatasan uang tunai untuk mendorong adopsi digital sempat memicu protes publik.

Pilihan yang Mulai Menyempit

Hari ini, masyarakat masih punya opsi menggunakan uang tunai. Transaksi tanpa jejak masih dimungkinkan, terutama di sektor informal.

Namun dengan arah kebijakan menuju digitalisasi penuh, ruang itu perlahan menyempit. Ini bukan sekadar soal teknologi, tapi perubahan struktur ekonomi.

Seorang rekan jurnalis pernah berkelakar, “Dulu kita takut dompet hilang, sekarang takut data bocor.” Kalimat itu terasa makin relevan di era digital.

CBDC hampir pasti akan menjadi bagian dari sistem keuangan Indonesia. Pertanyaannya bukan lagi “apakah”, melainkan “seberapa siap masyarakat memahami risikonya”.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Strategi Karier Anti Diinjak: Cara Bertahan di Kantor


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena pekerja kompeten namun kariernya stagnan kembali jadi sorotan. Banyak karyawan merasa sudah bekerja keras, tetapi tetap sulit naik posisi atau justru tersisih di lingkungan kerja.

Situasi ini bukan semata soal kemampuan teknis. Ada dinamika kekuasaan tak tertulis di kantor yang kerap luput dipahami, padahal menentukan arah karier seseorang.

Dinamika Kekuasaan Tersembunyi di Lingkungan Kerja

Di banyak organisasi, relasi kerja tidak selalu berjalan linier. Hierarki formal sering dibarengi “politik kantor” yang memengaruhi keputusan promosi hingga distribusi proyek strategis.

Salah satu pola yang kerap muncul adalah ketegangan antara atasan dan bawahan yang terlalu menonjol. Karyawan berprestasi justru bisa dianggap ancaman bila tidak dikelola dengan tepat.

Seorang manajer HR di Jakarta pernah bercerita, karyawan terbaik di timnya justru gagal promosi karena dinilai “tidak memberi ruang” bagi atasannya. Penilaian subjektif seperti ini sering tak tertulis, tapi berdampak nyata.

Dalam praktiknya, pekerja yang cerdas membaca situasi cenderung lebih bertahan. Mereka tahu kapan harus tampil dan kapan perlu menahan diri.

Strategi Bertahan: Antara Reputasi dan Kendali Diri

Selain relasi dengan atasan, faktor lain adalah pengelolaan informasi. Tidak semua hal perlu dibagikan, bahkan kepada rekan dekat sekalipun.

Lingkungan kerja kompetitif membuat batas antara kolaborasi dan persaingan menjadi tipis. Keberhasilan satu orang bisa memicu kecemburuan yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Saya pernah menemui kasus sederhana. Seorang rekan terlalu terbuka soal rencana pindah divisi. Dalam hitungan minggu, peluang itu justru diambil orang lain yang lebih dulu bergerak diam-diam.

Di titik ini, reputasi menjadi aset utama. Sekali citra profesional terganggu—baik karena ucapan atau sikap—dampaknya bisa panjang dan sulit dipulihkan.

Di sisi lain, ketenangan juga memainkan peran penting. Individu yang tidak terlihat tergesa-gesa cenderung dianggap lebih matang dan memiliki kontrol atas situasi.

Fleksibilitas menjadi kunci berikutnya. Lingkungan kerja terus berubah, dan pendekatan yang kaku justru membuat seseorang mudah tersingkir.

Strategi adaptif—termasuk kemampuan membaca situasi dan, dalam kondisi tertentu, meredam ego—sering kali lebih efektif dibanding sekadar kerja keras.

Pada akhirnya, realitas dunia kerja tidak selalu berpihak pada “yang paling baik”. Pertanyaannya sederhana: apakah ingin tetap idealis tanpa strategi, atau mulai memahami cara bertahan tanpa kehilangan integritas.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

 


Share:

BSSN Dorong Blueprint Transformasi Digital Industri


Duta Nusantara Merdeka | Cikarang 
Kolaborasi BSSN RI, APTIKNAS, APKOMINDO, APINDO DPK Kabupaten Bekasi, dan YORINDO Communication menggelar roadshow di Cikarang, Kamis (9/4/2026). Agenda ini fokus mempercepat blueprint transformasi digital industri manufaktur nasional.

Acara bertajuk ““AI Driven Secure & Efficient: Engineering the Digital Transformation Blueprint” ini menjadi kota ketiga dalam rangkaian 10 kota. Cikarang dipilih karena posisinya sebagai pusat manufaktur yang menopang rantai pasok nasional.

Blueprint Transformasi Digital Industri Mulai Diperjelas

Direktur YORINDO Communication, Yolanda Roring, menegaskan roadshow ini dirancang sebagai panduan praktis bagi pelaku industri. “Kami hadirkan ekosistem lengkap, dari keamanan siber hingga AI terapan,” ujarnya.

Dukungan datang dari Ketua APINDO DPK Kabupaten Bekasi, M. Yusuf Wibisono. Ia menilai AI bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan untuk mendorong produktivitas dan daya saing global.

“Transformasi digital harus berdampak pada efisiensi nyata, termasuk sistem pengupahan berbasis produktivitas,” kata Yusuf dalam forum tersebut.

Saya sempat berbincang dengan salah satu peserta, manajer pabrik di kawasan Jababeka. Ia mengaku selama ini digitalisasi hanya sebatas ERP dasar. “Begitu lihat AI bisa otomatisasi workflow, baru terasa gap-nya jauh,” ujarnya.

Keamanan Siber dan Infrastruktur Jadi Sorotan

Dari sisi keamanan, Deputi BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menekankan pentingnya sistem pertahanan siber otonom. Menurut dia, ancaman digital kini bergerak lebih cepat dari respons manual.

“Autonomous defense menjadi kunci melindungi operasional industri kritis,” ujarnya. Pendekatan ini memungkinkan sistem merespons serangan tanpa menunggu intervensi manusia.

Sementara itu, Ketua Umum APTIKNAS sekaligus APKOMINDO, Soegiharto Santoso, menyoroti risiko “black box syndrome”. Ia mengingatkan adopsi AI tanpa fondasi infrastruktur kuat berpotensi menimbulkan ketergantungan.

“Pilihan harus jelas, apakah on-premise atau cloud lokal yang menjamin kedaulatan data,” kata Hoky, sapaan akrabnya.

Solusi konkret juga dipaparkan pelaku industri, mulai dari hingga Smartnetindo. Fokusnya pada integrasi AI, IoT, dan otomatisasi proses bisnis.

Di sesi akhir, peserta mengikuti workshop praktik integrasi sistem berbasis AI. Banyak yang baru menyadari bahwa transformasi digital bukan sekadar beli teknologi, tetapi mengubah cara kerja secara menyeluruh.

Roadshow ini akan berlanjut ke sejumlah kota industri lain hingga Juni 2026. Targetnya jelas: mempercepat kesiapan industri nasional menghadapi era AI dengan sistem yang aman dan terukur.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


 


Share:

Pernikahan Beda Usia Viral, Mahar Fantastis Picu Sorotan


Duta Nusantara Merdeka | Makassar 
Fenomena pernikahan beda usia viral kembali ramai di media sosial setelah video seorang perempuan 22 tahun menikah dengan pria 65 tahun tersebar luas, pekan ini. Peristiwa ini memicu perbincangan soal mahar dan dinamika relasi.

Dalam video tersebut, pernikahan berlangsung meriah. Namun fokus publik tertuju pada perubahan ekspresi pengantin wanita, dari wajah tertunduk menjadi senyum lebar setelah melihat isi mahar yang diberikan.

Mahar Fantastis di Balik Pernikahan Beda Usia Viral

Isi mahar yang beredar dalam narasi warganet disebut tidak biasa. Mulai dari emas puluhan gram, sertifikat tanah, saham, hingga perlengkapan pribadi yang diklaim sebagai kesukaan pengantin perempuan.

Narasi yang menyertai video bahkan menyebut seluruh harta diberikan kepada mempelai wanita. Meski belum terverifikasi, detail ini cepat membentuk persepsi publik.

Perubahan ekspresi sang pengantin menjadi titik dramatis. Dalam hitungan detik, wajah yang semula tampak kaku berubah menjadi lebih rileks dan tersenyum.

Saya teringat satu liputan lama tentang pernikahan di daerah tambang. Mahar bukan sekadar simbol, melainkan “jaminan masa depan” yang dibicarakan terbuka, bahkan sebelum akad dimulai.

Persepsi Publik, Relasi Kuasa, dan Realitas Sosial

Fenomena pernikahan beda usia ekstrem sering dibaca melalui lensa ekonomi. Komentar publik didominasi asumsi tentang motif finansial, bukan relasi personal kedua pihak.

Di sisi lain, muncul juga narasi empati yang lebih kompleks. Kalimat seperti “hidup bukan soal ingin, tapi terpaksa” beredar luas, mencerminkan realitas sosial sebagian masyarakat.

Pengalaman pribadi lain muncul saat berbincang dengan seorang perempuan yang menikah beda usia jauh. Ia bilang, pilihan itu bukan soal cinta semata, melainkan kombinasi kebutuhan, tekanan, dan kesempatan.

Media sosial, dalam kasus ini, bekerja seperti kaca pembesar. Satu momen ekspresi bisa diartikan berlapis-lapis, tanpa konteks utuh dari pelaku utama.

Hingga kini, tidak ada keterangan resmi dari pihak keluarga mengenai detail mahar maupun latar belakang pernikahan tersebut. Informasi yang beredar masih berbasis visual dan interpretasi.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Cara Memahami Aturan Sosial Agar Tidak Diremehkan


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena orang mudah diremehkan kembali jadi sorotan dalam dinamika sosial modern, terutama di lingkungan kerja dan pergaulan profesional. Banyak individu dinilai kompeten secara teknis, namun tetap kesulitan mendapat respek karena tidak memahami aturan sosial tak tertulis yang menentukan cara orang lain memperlakukan mereka.

Situasi ini terjadi lintas usia dan profesi. Masalahnya bukan sekadar kemampuan, melainkan sinyal sosial yang dikirim—bagaimana seseorang menetapkan batas, berbicara, dan merespons tekanan dalam interaksi sehari-hari.

Peta Aturan Sosial yang Tak Pernah Diajarkan

Di sekolah, orang dilatih berpikir logis. Di kantor, mereka diasah secara teknis. Namun, satu hal sering terlewat: bagaimana manusia membaca kekuatan dalam interaksi sosial.

Dalam banyak situasi, keputusan dan perlakuan tidak sepenuhnya ditentukan oleh data atau kemampuan. Ada lapisan lain—cara seseorang membawa diri.

Saya pernah menyaksikan seorang rekan dengan analisis tajam justru diabaikan dalam rapat. Ia terlalu sering menjelaskan diri, bahkan sebelum dikritik. Tanpa sadar, itu memberi sinyal keraguan.

Sebaliknya, ada sosok lain yang lebih hemat bicara, tapi setiap kalimatnya diperhitungkan. Bukan karena lebih pintar, melainkan karena tahu kapan harus bicara dan kapan diam.

Ketika Sinyal Lebih Kuat dari Kata-Kata

Orang yang tidak memahami aturan sosial cenderung bereaksi berlebihan. Mereka cepat membela diri, takut dianggap salah, dan berusaha menyenangkan semua pihak.

Polanya berulang: terlalu mudah mengalah, terlalu banyak menjelaskan, dan sulit menetapkan batas. Akibatnya, orang lain membaca celah tersebut sebagai ruang untuk menekan.

Sebaliknya, mereka yang memahami dinamika ini tidak selalu dominan. Mereka justru lebih terukur. Mereka tahu kapan menarik diri, kapan menahan respons, dan kapan bersikap tegas.

Seorang analis muda pernah mengatakan, “Kadang bukan argumen yang menentukan, tapi bagaimana kita berdiri saat menyampaikannya.” Pengamatan itu terasa relevan di banyak situasi.

Dampak: Dari Diremehkan ke Dihormati

Perubahan perlakuan sosial sering kali bukan datang dari peningkatan kemampuan, melainkan dari perubahan sikap.

Saat seseorang berhenti mencari persetujuan semua orang, tidak lagi terburu-buru membela diri, dan mulai menetapkan batas yang jelas, respons lingkungan ikut berubah.

Rasa hormat dalam banyak kasus bukan lahir dari kebaikan semata, melainkan dari konsistensi sikap dan ketegasan batas.

Cara memahami aturan sosial agar tidak diremehkan menjadi kunci dalam membangun posisi yang lebih kuat, baik di tempat kerja maupun dalam relasi sehari-hari.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Membaca Peta Sosial Kantor, Kunci Menang di Dunia Kerja


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Fenomena peta sosial kantor yang lebih menentukan dibanding data kembali jadi sorotan dalam dinamika kerja modern. Di banyak organisasi, keputusan penting justru lahir dari relasi, bukan angka, terutama dalam situasi penuh kepentingan.

Dalam praktiknya, kemampuan membaca siapa berpengaruh, kapan bicara, dan bagaimana membangun aliansi sering kali lebih menentukan hasil dibanding analisis data yang presisi sekalipun.

Peta Sosial Kantor Lebih Kuat dari Data

Ada satu pola yang berulang di banyak ruang rapat: data sudah rapi, grafik sudah kuat, tapi keputusan tetap melenceng. Bukan karena datanya salah, melainkan karena “pembacanya” keliru.

Seorang manajer pernah bercerita, proposalnya ditolak mentah meski didukung angka solid. Beberapa minggu kemudian, ide serupa lolos—dibawa oleh orang yang lebih dekat dengan pengambil keputusan.

Di titik ini, peta sosial bekerja. Ia membaca hal yang tak tertulis: ego, kepentingan, dan relasi personal. Data tidak punya emosi. Manusia punya.

Orang yang piawai membaca jaringan sosial tahu kapan harus mendorong ide, dan kapan menahan diri. Bahkan sebelum rapat dimulai, arah keputusan sering sudah terbentuk lewat percakapan informal.

Ketika Pengaruh Mendahului Logika

Dalam banyak kasus, yang menentukan bukan siapa paling benar, melainkan siapa paling mampu membuat argumen terasa masuk akal bagi pihak yang berkuasa.

Di sinilah pengaruh menjadi mata uang utama. Mereka yang memahami struktur informal organisasi tahu siapa yang harus diajak bicara lebih dulu, siapa yang bisa menjadi penghambat diam-diam.

Ada juga strategi halus: memberi ilusi kendali kepada pihak tertentu agar resistensi menurun. Teknik ini sering dipakai tanpa disadari, tapi dampaknya nyata dalam keputusan akhir.

Pengalaman lain datang dari seorang analis muda. Ia mengaku lebih banyak belajar dari “mengamati dinamika rapat” ketimbang membaca laporan. “Kadang yang menentukan bukan isi presentasi, tapi siapa yang duduk di sebelah siapa,” ujarnya.

Dampak dan Pelajaran bagi Profesional

Realitas ini mengubah cara banyak profesional bekerja. Analisis tetap penting, tapi tidak cukup.

Langkah pertama adalah memahami hubungan sebelum mendorong sistem. Kedua, membangun pengaruh sebelum membawa data ke meja diskusi.

Peta sosial kantor bukan soal manipulasi, melainkan kecermatan membaca situasi. Ini tentang memahami lanskap kekuasaan yang sering tersembunyi di balik struktur formal.

Pada akhirnya, mereka yang menguasai jaringan sosial sering unggul lebih dulu. Sementara yang hanya fokus pada angka, kerap tertinggal—bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang membaca manusia.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Cara Mengatur Aliran Uang ala Orang Kaya, Ini Faktanya


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Konsep cara mengatur aliran uang ala orang kaya kembali jadi perhatian di tengah tekanan ekonomi dan gaya hidup konsumtif. Banyak pekerja berpenghasilan tetap mengaku sulit menahan uang, meski pendapatan meningkat.

Fenomena ini terjadi lintas sektor, dari karyawan muda hingga profesional senior. Polanya sama: uang masuk rutin, tetapi cepat keluar tanpa arah yang jelas atau sistem yang terbangun.

Cara Mengatur Aliran Uang, Bukan Sekadar Mencari

Ada satu analogi yang belakangan terasa masuk akal: uang seperti air. Jika alirannya tidak diatur, ia akan habis, bahkan saat volumenya besar.

Seorang rekan di ruang redaksi pernah bercerita, gajinya naik dua kali lipat dalam tiga tahun. Tapi kondisi finansialnya tidak berubah signifikan. “Aneh, uangnya seperti lewat saja,” katanya suatu sore.

Masalahnya bukan pada jumlah pemasukan, melainkan tidak adanya “jalur aliran”. Uang datang, dipakai, lalu hilang tanpa sempat bekerja.

Dalam praktik orang kaya, fokusnya bukan sekadar menambah pemasukan. Mereka membangun sistem: dari mana uang masuk, ke mana dialirkan, dan bagaimana kembali dalam bentuk lain.

Membangun Sistem Aliran, Bukan Kebocoran

Aliran uang yang sehat bersifat terstruktur. Sebagian digunakan untuk kebutuhan hidup, sebagian dialokasikan ke aset, dan sebagian lagi diputar untuk menciptakan arus baru.

Di sinilah perbedaan paling terasa. Banyak orang fokus “menampung air”, tapi lupa membangun pipa. Akibatnya, penghasilan terus habis tanpa jejak pertumbuhan.

Saya pernah melihat langsung pola ini pada seorang pengusaha kecil. Ia tidak mencatat pengeluaran detail, tapi disiplin memisahkan uang usaha dan pribadi. Hasilnya, bisnisnya tumbuh stabil tanpa terasa.

Sebaliknya, mereka yang mencampur semua arus keuangan cenderung mengalami kebocoran. Uang terlihat banyak di awal bulan, tapi menipis tanpa kontrol menjelang akhir.

Dampak dan Cara Mengubah Pola

Pemahaman ini menggeser cara melihat kekayaan. Ukurannya bukan lagi seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa efisien aliran uang dikelola.

Langkah awalnya sederhana: petakan arus kas secara jujur. Lalu tentukan jalur tetap—untuk kebutuhan, investasi, dan pengembangan sumber pendapatan baru.

Cara mengatur aliran uang yang disiplin memungkinkan stabilitas finansial jangka panjang. Tanpa itu, kenaikan gaji hanya memberi ilusi kemajuan.

Pada akhirnya, uang yang diarahkan bisa membangun sistem yang menopang hidup. Sementara uang yang dibiarkan liar hanya mempercepat siklus habis dan mengulang dari nol.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

Situasi Panipahan Berangsur Normal, Ini Hasil Peninjauan


Duta Nusantara Merdeka | Panipahan
Upaya memulihkan keamanan pasca konflik di Panipahan, Riau, dipercepat. Danrem 031/WB bersama Kapolda Riau turun langsung ke lapangan, Kamis (16/4/2026), memastikan situasi terkendali dan aktivitas warga kembali berjalan.

Kunjungan ini bukan sekadar simbolik. Keduanya menyisir titik-titik bekas bentrokan dan berdialog dengan warga untuk memastikan kondisi riil di lapangan sudah kondusif.

Peninjauan Lapangan dan Dialog Warga

Di sejumlah titik yang sebelumnya memanas, aparat memastikan tak ada lagi potensi bentrokan lanjutan. Pengamanan tetap berjalan, tapi dengan pendekatan yang lebih persuasif.

Dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama, suara warga terdengar jelas: mereka ingin situasi aman bertahan, bukan sekadar reda sesaat.

Ada satu momen yang cukup membekas. Seorang warga, sambil menyeduh kopi di teras rumahnya, bercerita bahwa beberapa hari lalu ia memilih tidak melaut karena khawatir situasi. Kini, ia mulai kembali beraktivitas.

Danrem 031/WB menegaskan kondisi Panipahan sudah aman. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan tidak mudah terpancing isu yang belum jelas.

“Permasalahan yang terjadi hendaknya diselesaikan dengan cara-cara yang baik melalui komunikasi, koordinasi, dan musyawarah. Jangan sampai konflik justru merugikan masyarakat sendiri,” ujarnya.

Komitmen Pengamanan dan Pemulihan Sosial

Kapolda Riau menekankan penanganan konflik dilakukan secara profesional dan proporsional. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan segera melapor jika ada potensi gangguan keamanan.

Pendekatan humanis menjadi kunci. Aparat tidak hanya hadir sebagai penjaga keamanan, tetapi juga mediator sosial yang menjaga hubungan antarwarga tetap harmonis.

Sinergi TNI-Polri di Panipahan kali ini menunjukkan pola yang mulai bergeser: tidak hanya reaktif, tapi juga preventif dan komunikatif.

Bagi sebagian warga, kehadiran aparat di tengah kampung memberi rasa aman yang nyata. Seorang pedagang kecil mengaku, pembeli mulai kembali datang setelah situasi mereda.

Langkah cepat dan kolaboratif ini diharapkan mampu memulihkan kepercayaan publik. Targetnya sederhana tapi krusial: aktivitas ekonomi kembali berjalan, dan relasi sosial pulih seperti semula.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 



Share:

Jimly Asshiddiqie Bicara Kritis Soal Independensi Hakim




Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Dalam rangka peringatan HUT ke-70 tahun Jimly Asshiddiqie, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia meluncurkan buku “Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman” di Jakarta, Jumat (17/4/2026). Forum ini menyoroti isu independensi kekuasaan kehakiman di Indonesia yang dinilai belum tuntas.

Dalam sekapur sirih, Jimly menegaskan bahwa kemerdekaan peradilan bukan konsep statis, melainkan problem yang terus bergerak mengikuti dinamika politik dan ekonomi.

Independensi Kekuasaan Kehakiman di Indonesia Belum Final

Jimly menilai, semua sistem politik di dunia—baik presidensial, parlementer, hingga komunis—sepakat pada satu hal: idealnya peradilan harus independen.

“Independence of judiciary ini bukan soal sederhana, ini masalah dinamis,” ujar Jimly.

Ia mengingatkan, kekuasaan kehakiman adalah penjaga demokrasi, terutama saat relasi eksekutif dan legislatif terlalu dominan.

Dalam satu liputan lama yang saya kerjakan, seorang hakim pernah berbisik, tekanan paling berat justru datang saat semua kekuatan politik berada di satu barisan. Tidak ada oposisi, tidak ada penyeimbang.

Apa yang disampaikan Jimly terasa seperti mengonfirmasi realitas itu.

Tarikan Politik dan Ekonomi Menguji Netralitas Hakim

Jimly juga menyinggung realitas yang sering diabaikan: politik dan ekonomi kerap bekerja di balik layar, memengaruhi arah keputusan hukum.

Menurut dia, dalam banyak negara, kekuasaan tidak hanya dipegang aktor politik, tetapi juga pemilik modal.

“Politik dan ekonomi itu punya logikanya sendiri,” kata Jimly.

Situasi ini makin kompleks ketika mekanisme check and balance melemah. Ia mencontohkan kondisi ketika mayoritas politik mendominasi, sementara suara minoritas terpinggirkan.

Dalam pengalaman saya mengikuti diskusi kebijakan publik, istilah “majority rules” sering disalahpahami seolah identik dengan keadilan. Padahal, Jimly menegaskan, demokrasi substansif justru bertumpu pada perlindungan minority rights.

Peran MK dan Tantangan Demokrasi Substansif

Jimly menegaskan, sembilan hakim konstitusi menjadi benteng terakhir menjaga keseimbangan tersebut. Mereka harus berdebat, bukan sekadar menyepakati.

Ia juga mengkritik persepsi keliru soal asal-usul hakim. “Dipilih oleh, bukan dari,” ujarnya, menegaskan bahwa hakim bukan representasi lembaga pengusul.

Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahaya ketika saluran aspirasi formal tidak berjalan. Masyarakat bisa bergerak sendiri, terutama lewat media sosial.

Fenomena ini, menurut dia, sudah terlihat dalam berbagai gelombang aksi non-organik yang sulit dikendalikan.

Menjaga Demokrasi Lewat Peradilan yang Merdeka

Di ujung pidatonya, Jimly menekankan bahwa independensi kekuasaan kehakiman di Indonesia bukan sekadar isu teknis, tetapi fondasi kualitas demokrasi.

Ia mengingatkan, meski Indonesia termasuk demokrasi besar secara jumlah pemilih, kualitasnya justru menurun.

“Kalau tidak ada kemerdekaan, selesai urusan,” ujarnya.

Peluncuran buku ini menjadi pengingat bahwa ide harus terus diwariskan. Bukan soal figur, tetapi menjaga arah negara hukum tetap berada di jalurnya.

Reporter: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 


Share:

Peluncuran Buku Jimly, MK Bahas Arah Kekuasaan Hakim


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia meluncurkan buku “Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman” dalam rangka 70 tahun Jimly Asshiddiqie, di Jakarta, Jumat (17/4/2026). Agenda ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa isu independensi peradilan belum benar-benar selesai.

Di tengah sorotan publik terhadap lembaga hukum, Ketua MK Suhartoyo menegaskan, perdebatan soal kemerdekaan kehakiman masih relevan, bahkan cenderung menguat dalam praktik kekuasaan modern.

Independensi Hakim, Isu Lama yang Tak Pernah Usai

Peluncuran buku ini menjadi ruang refleksi. Suhartoyo mengakui, meski reformasi hukum sudah berjalan puluhan tahun, pertanyaan tentang independensi hakim terus muncul.

“Kenapa kemerdekaan kekuasaan kehakiman masih kita persoalkan?” ujar Suhartoyo dalam sambutannya.

Ia menyinggung, MK tidak hanya menangani sengketa formal antara pemerintah dan DPR, tetapi juga perkara strategis seperti sengketa kewenangan lembaga negara hingga perkara terkait KPU.

Di ruang-ruang itu, tekanan politik sering kali tak kasat mata. Saya pernah mengikuti satu diskusi kecil dengan praktisi hukum, dan satu kalimat yang melekat: independensi bukan soal aturan, tapi keberanian menolak intervensi.

Pernyataan itu terasa relevan dengan kondisi yang digambarkan Suhartoyo.

Menjaga Netralitas di Tengah Tarik Ulur Kekuasaan

Suhartoyo menekankan, hakim konstitusi yang sudah masuk ke MK sejatinya melepaskan afiliasi asalnya. Namun, publik tetap kerap meragukan netralitas tersebut.

“Setelah di MK, mereka betul-betul untuk MK. Tidak lagi ingat lembaga yang mengutusnya,” kata dia.

Di sisi lain, ia mengakui kritik publik adalah bagian dari kontrol demokrasi. Tapi jika berlebihan, justru bisa menggerus kepercayaan terhadap lembaga peradilan.

Dalam pengalaman saya meliput isu hukum, skeptisisme publik memang meningkat beberapa tahun terakhir. Bukan tanpa alasan, tapi juga tidak selalu berbasis fakta utuh.

Karena itu, buku ini diharapkan memperkaya perspektif—bahwa independensi bukan konsep statis, melainkan proses yang terus diuji.

Warisan Intelektual dan Relevansi ke Depan

Bagi MK, sosok Jimly bukan hanya tokoh, tetapi bagian dari fondasi kelembagaan. Suhartoyo bahkan menyebut, dalam kondisi apa pun, MK “tidak bisa dijauhkan” dari figur tersebut.

Momentum ulang tahun ke-70 ini dimaknai sebagai penguatan tradisi intelektual: membaca, menulis, dan berdiskusi.

Namun, tantangan ke depan tetap sama—menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan integritas. Jika gagal, independensi hanya akan jadi jargon. Jika berhasil, ia menjadi benteng terakhir demokrasi.

Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto 


Share:

Strategi Blok Politik NasDem di Era Prabowo, Arah Baru Koalisi


Duta Nusantara Merdeka | Jakarta 
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, konfigurasi politik nasional bergerak cair. Di tengah dinamika itu, Partai NasDem mulai memainkan strategi baru lewat pendekatan “blok politik” yang lebih fleksibel.

Langkah ini terlihat dari upaya NasDem membuka komunikasi lintas partai, termasuk dengan Partai Gerindra, sebagai bagian dari membaca arah kekuasaan sekaligus menjaga relevansi politiknya.

Strategi Blok Politik NasDem di Era Prabowo

Dalam beberapa bulan terakhir, manuver NasDem kerap ditafsirkan sebagai upaya merger atau fusi politik. Namun, narasi itu langsung dibantah kader internal partai.

Istilah yang lebih tepat, menurut mereka, adalah “blok politik”—sebuah pendekatan yang tidak kaku seperti koalisi formal, tetapi juga bukan oposisi murni.

Blok politik ini bekerja di ruang abu-abu: komunikasi cair, kepentingan bersama, dan kesamaan visi dalam isu strategis.

Dalam praktiknya, pendekatan ini memberi ruang bagi NasDem untuk tetap terlibat dalam orbit kekuasaan tanpa kehilangan identitas politiknya.

Saya pernah mendengar seorang politisi senior menyebut, “politik itu bukan soal siapa kawan atau lawan, tapi siapa yang bisa diajak bicara.” Pola ini terasa relevan dengan langkah NasDem hari ini.

NasDem tampaknya sadar, polarisasi tajam hanya menguras energi. Karena itu, mereka memilih jalur tengah—tidak sepenuhnya oposisi, tapi juga tidak larut dalam kekuasaan.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Tarik Ulur Kekuasaan

Langkah membuka komunikasi dengan Partai Gerindra menjadi sinyal penting. Ini bukan sekadar manuver jangka pendek, melainkan bagian dari strategi menjaga posisi tawar.

Dengan masuk dalam orbit dialog kekuasaan, NasDem punya peluang memengaruhi arah kebijakan, terutama dalam isu pembangunan dan ekonomi.

Namun, strategi ini bukan tanpa risiko. Terlalu dekat dengan kekuasaan bisa mengaburkan diferensiasi politik. Sebaliknya, terlalu jauh justru membuat pengaruh mengecil.

Di sinilah tantangan utama NasDem: menjaga keseimbangan antara akses kekuasaan dan independensi politik.

Dalam beberapa diskusi politik yang saya ikuti, pola seperti ini sering disebut sebagai “politik adaptif”—bertahan bukan dengan konfrontasi, tapi dengan kelincahan membaca momentum.

NasDem tampaknya sedang memainkan peran itu. Mereka tidak lagi terjebak dalam dikotomi lama: koalisi versus oposisi.

Sebaliknya, partai ini mencoba membangun ekosistem politik yang lebih cair, dengan menempatkan kolaborasi sebagai alat, bukan tujuan akhir.

Arah Politik NasDem ke Depan

Ke depan, arah politik NasDem diperkirakan tetap moderat dan terukur. Partai ini cenderung menghindari konflik terbuka yang berpotensi merusak stabilitas.

Fokusnya bergeser ke isu-isu strategis seperti reformasi birokrasi, ekonomi inklusif, dan penguatan demokrasi.

Namun, ujian sesungguhnya justru ada pada konsistensi. Apakah fleksibilitas ini bisa tetap menjaga garis ideologis, atau justru melebur dalam pragmatisme?

Jika berhasil, NasDem berpotensi menjadi penyeimbang penting dalam lanskap politik nasional. Jika tidak, mereka bisa kehilangan identitas yang selama ini dibangun.

Penulis: Lakalim Adalin 
Editor: Arianto 

Share:

KIRIM BERITA SILAHKAN KLIK

KIRIM BERITA ANDA KESINI! Merasa Terbantu Dengan Publikasi ? Ayo Traktir Kopi Untuk Admin Dengan Cara Berbagai Donasi. Terimakasih :)



BREAKING NEWS

~||~ Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah Jatuh Pada Hari Sabtu 1 Maret 2025 ~||~ 1 Syawal Jatuh Pada Tanggal 31 Maret 2025 ~||~ Muhammadiyah Luncurkan Ojek Online ZENDO ~||~ 140 Siswa SMKN 10 Medan Gagal SNBP ~||~ Prabowo Subianto Kembali Menjabat Sebagai Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2025 - 2030 ~||~ Praperadilan Hasto Kristianto Di Tolak ~||~ #INDONESIADAMAI ~||~

Kilas Balik Bung Karno

Kilas Balik Bung Karno - Makna Proklamasi

Ir. Soekarno (Sang Proklamator) Setiap Tahun kita Memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maka kita tidak bisa t...

Like Fanpage

Follow In Twitter

Breaking News

IKUTI KAMI


loading...

NONTON VIDEO DAPAT DUIT

10 Berita Populer

IKLAN

IKLAN
Ingin Pasang Iklan hubungi Kami di 0812 6582 534

Label

(SAS) #2019GantiPresiden Accounting Aceh Aceh Timur Adat Istiadat Advokat AFF Affandi Affan Agama Agraria AIDS Air Air Bersih Aisyiyah Aksara Aksi Aksi Sosial Aktivis Aktivitis Al Washliyah Album Amien Rais Anak Anak Yatim Anarkis Angkatan Darat Anies Baswedan Animal Anti Korupsi Arisan Artikel Artis Arus Mudik Asahan Asian Games ASN Asuransi Asusila Atlet Award Bacaleg Bachtiar Ahmad Sibarani Baksos Bakti Sosial Balap Liar Banda Aceh Bandar Lampung Bandara Bandung Banjir BANK Bank Sumut Bansos Banten Bantuan Sosial Bapenas BAPER Bappenas Basarnas Batu Akik Batubara Bawang Putih Bawaslu Bayi Bazar BBM Bea Cukai Beasiswa Begal Bekraf Beladiri Belanja Bencana Bencana Alam Beras Berita Bhabinkamtibmas Bhayangkara Bhayangkari Bioskop Bisnis BKPRMI BM PAN BNI BNN BNPT Boardgame Bobby Nasution Bom Bunuh Diri Boomerang BPBD BPJS BPN BPOM BRI Brimob Buka lapak Bukit Asam Buku Bulog Bulukumba BUMN Bung Karno Bupati Bursa saham Bursasaham Buruh Bus Caleg Capital market CCTV Cerpen Cianjur Cikampek Citilink conference Cosplayer Covid-19 Covid-19 Satgas Covid19 Cuaca Cuci Tangan Curanmor Cyber Daerah Dakwah Dance Debat Presiden Debt Collector Dede Farhan Aulawi Deklarasi Deli Serdang Demonstrasi Densus 88 Desa Dewan Pengawas Dewata Sakti Dharma Pertiwi Dialog Digital Dikdasmen Diklat Dinas Perhubungan Dirgahayu HUT RI Disiplin Diskusi Dongeng Donor Darah DPD RI DPR Duka Cita E-Money Effendi Simbolon Ekonom Ekonomi Ekspor Impor Electronics Elektronik Emas Empat Pilar Entertainment Es cream ESDM event Fashion Festival FGD FIFA Film Film Horor Film seri Anak Fintech FISIP Flores Timur Formasi Formula E Forum Furniture Futsal G30S/PKI GAAS Games Ganja Ganjar Ganjil Genap Garut Gaza Gebyar Kemerdekaan Gempa Geng Motor Genppari Gereja Gibran Gizi Buruk Go Pay Go-Jek Gojek Golkar Gotong Royong Grab Gubernur Guru Besar Gym H Haedar Nasir ham HANI Harbolnas Hari Ibu Hewan Hiburan HIV HMI Hoax Hotel Hp Hukum Humas Humbahas HUT HUT Bhayangkara HUT RI HUT TNI Hutan Ibadah Ibadah Haji Ibu Negara Idul Adha Idul Fitri IKLAN Imlek IMM Indonesia Industri inflasi Informasi Infrastruktur Inspektorat Inspirasi Internasional Internet Intoleran Investor IPK IPM IPPI Islam ITB IWAPI Jakarta Jakarta Barat Jakarta Pusat Jalan Jambore Nasional Jawa Tengah Jawa Timur Jayapura Jokowi Juara Jum'at Barokah Jumanji Jumat Jumat Berkah Jurnalis Kaliber Kampanye Kampung Rakyat Indonesia Kampus Kamtibmas Kapolda Kapoldasu Kapolri Kapolsek Kapolsek Kepolisian Karang Taruna Karaoke Karhutla Karya Tulis Kasus KDRT Keadilan Keagamaan Keamanan Kebakaran Kebangsaan Kebersihan Kebudayaan Kebun Kecantikan Kecelakaan Kedokteran Kegiatan Kegiatan seminar Kehutanan Kejahatan Kejaksaan Kejuaraan Kejurnas Kekerasan Kelestarian Alam Keluarga Kemalingan Kemanusiaan Kemenag Kemenaker Kemendag Kemendagri Kemendesa Kemendikbud Kemenhub Kemeninfo Kemenkes Kemenkeu Kemenko Kemenkumham Kemenlu KEMENPAN-RB Kemenparekraf Kemenperin Kemenpora kemenristek Kemensos Kementan Kemiskinan Kendaraan Dinas Kepala Daerah Kepedulian keperdulian Kepolisian Kerajaan Kereta Api kerja Paksa Kerjasama Kesehatan Kesejahteraan Keselamatan Kesenian Ketahanan Pangan Ketenagakerjaan Keuangan Khilafahtul Muslimin Kilas Balik Bung Karno Kisaran Kivlan Zen KKP KNPI Kohati kompetisi Kompolnas Komputer Komunitas kon Konferensi KONI Konsumen Koperasi Kopermasu Kopi Kopi Pagi Korupsi Koruptor Kota Medan KPK KPR KPU Kriminal KRYD KSAD Kudeta Kuliner Kunjungan Kerja Kutai Kartanegara Labuhan Batu Lahan Lakalantas Laksi Lalu Lintas Lampung Langka Langkat Lapas LAPK Launching Launching Album Launching Aplikasi Launching Buku LAZISMU Lebaran Legislatif Lembaga LGBT Lifestyle Lingkungan Lingkungan Hidup LIPPI Listrik Lock Down Lomba lomba lari London LPPI LPS LSM Lukas Enembe Madina Mahasiswa Mahkamah Mahkamah Agung Mainan anak Majalengka mak Makanan Jepang Makassar Makkasar Mall Maluku Manggarai Barat Market Outlook Masjid Masker Masyarakat Mata Uang Maulid Nabi Mayday MDMC Medan Denai Media Media Sosial Megapolitan Menag Mendag Mendagri Menembak ment Menteri Menteri Perdagangan millenial Minuman Keras Minuman sehat Minyak Goreng Minyak Makan Miras Mobil MOI Motivasi MoU MPR MPR RI Mudik Muhammadiyah Muharram MUI Munas Musibah Musik Musyawarah Musywil Narkoba Narkotika NasDem Nasional Nasional pers Natal Natal & Tahun Baru New Normal NII NKRI NTT NU ODGJ Office Ojek Online Ojol Olah Raga Olahraga Ombusman Omicron Online Operasi Patuh Operasi Yustisi Opini Organisasi Ormas Otomotif P Padang Padanglawas Utara Padangsidimpuan Pagelaran Pahlawan Pajak Pakta Integritas Palestina Paluta Pameran PAN Pancasila pangan Papua Parawisata Pariwisata Partai Amanat Nasional Partai Demokrat Partai Politik Partai UKM Partai Ummat Pasar Pasar modal Pasar Murah Pasar Tradisional Paspampres Patroli PC PCM Medan Denai PDI Perjuangan PDIP Perjuangan pe Pedagang Pegadaian Pelajar Pelajar Islam Indonesia Pelantikan Pelatihan Pelayanan Publik Pelecehan seks Pelukis Peluncuran Pemadam Kebakaran Pemalakan Pembangunan Pembayaran Elektronik Pembunuhan pemerasan Pemerintah Pemerintahan Pemerkosaan Pemilu Pemuda Pemuda Melati Indonesia Pemuda Muhammadiyah Pemuka Agama pen Penandatanganan Pencabulan Pencemaran Nama Baik Penculikan Pencurian Pendataan Pendidikan Penelitian Penembakan Penerbangan Penertiban Pengabdian Pengadilan Pengadilan Negeri Pengajian Pengamanan Pengamat Penganiayaan Pengawasan Pengetahuan Penggelapan Penghargaan Penghijauan Pengusaha Penipuan Penistaan Agama Penulis Penyakit Penyandang Disabilitas Penyuluhan Perampasan Perang Perayaan Perbankan Percut Sei Tuan Perdagangan Perekonomian Perempuan & Anak Peresmian Pergaulan Perhubungan Perikanan Peristiwa Perjanjian Perjudian Perkawinan Perlombaan Permainan Perpajakan Pers Pertamina Pertanahan Pertanian Perusahaan Pesawat Terbang PET Pileg Pilkada PIlkades Pilpres Pin Pinjam meminjam uang Pinjaman Online PKL PKS PMI Polairud Polantas Polisi Cilik Politik POLRI Polwan Pondok Pesantren Ponpes Pornografi Posko Ummat PPKM PPN PPWI Pra Kerja Prabowo Pramuka Praperadilan Prawita Genppari Premanisme Presiden Prestasi Primbon Politik Prokes promo Property Prostitusi Protokol Kesehatan PSI PSSI Public Expose Publik expose Puisi Pungli PUPR Pusat Perbelanjaan Puskesmas PWI Qurban Radikalisme Rafdinal Ragam Rakernas Rakor Ramadhan Reksadana Rektor Relawan Relawan Jokowi Religi Remisi Rentan Renungan resa Restoran Reuni 212 Revolusi Mental Reward RKUHP Robot Ruang Guru Rumah Rumah sakit Rups Rusia RUU Saber Pungli Sabu Sahabat Anak Sains Salon Samosir Samsat Samsung Sanitasi air.Lingkungan hidup Santri SAR Satlantas Satpol PP Satwa SD Muhammadiyah 19 SD Terpadu 23 Medan Sejarah Sekolah Sembako Seminar Sengketa Seniman Senjata Senjata Api Sepak Bola Separatis Sepeda Sepeda sehat Serambi Law Firm Serdang Bedagai Sertifikat Sertijab sho Sigli Silaturahim Silaturahim. KUYAI Kartanegara Silaturahmi Silaturrahim SIM Simalungun Simpan Pinjam Simulasi Smartphone SMP Muhammadiyah 48 Soekarno Solar Somasi Sosial Sosialisasi Startup Stasiun STOP PRES...!!! Studi Ilmiah Stunting Suku bunga Sulawesi Selatan Sumatera Barat Sumatera Utara Sumpah Jabatan Sumur Bor Sumut Sunat Massal Sungai Superstore Suplemen Surabaya Surat Terbuka Suriyono Adi Susanto Suriyono Adi Susanto {SAS) Survei Survey susu Swab Antigen Syafi'i Ma'arif Syariah Syawal Takjil Tali Kasih Talkshow Tanjung Balai Tantama Tapanuli Tengah Tawuran Teknologi Teror Terorisme Tes Urine Tiket Tilang TimurTengah Tips Tjahyo Kumolo TNI TNI AU TNI nasional TNI-Polri Tokoh Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Tol Toys Kingdom ToysKingdom Tragedi Transportasi Trend Rambut True Money Uang Uang Palsu UIN Ujaran Kebencian UKM Ukraina Ulama UMJ umkm UMSU Undang-Undang UNIMED UniPin Universitas Unjuk Rasa Upacara Usaha Rakyat UU Cipta Kerja UU ITE UUD 1945 Vaksinasi Vaksinasi booster Valentine Day Verifikasi Viral Virus Corona Walikota Wanita Wapres Wartawan Webinar Wirausaha Wisata WNA Workshop Yogyakarta Zulkifli Hasan

Arsip Berita

IKUTI BERITA VIDEO KAMI DI YOUTUBE

POS PETIR

PAGAR LAUT

Pagar Laut yang terjadi di Tangerang Memang Membuat Heboh Indonesia, Apalagi Ada Sertifikatnya, Berarti Sudah Ada IzinnyaRakyat Semakin Cemas dan Khawatir, Apalagi Kalau Udara Mau DipagarBagai Tersambar Petir Mendengar Pagar-Pagaran .

HALLO KRING..!!!

12 PAS

PANCASILA UDAH FINAL

Pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila Banyak Penolakan Dari Berbagai Kalangan Masyarakat, Memang Seharusnya Tidak Usah Dibahas Dan Lebih Baik Dibatalkan. Pancasila Dasar Negara.
Tendangan 12 PAS Dihentikan

SOS

INDONESIA DARURAT NARKOBA

Sudah dijatuhi hukuman mati bahkan sudah ada yang dieksekusi, tapi masih banyak bandar narkoba semakin merajalela, terbukti banyak yang ditangkap petugas Polisi maupun BNN (Badan Narkotika Nasional) tapi belum kapok juga mereka, justru sipir penjara malah terlibat. Kalau sudah darurat begini, hukuman mati jangan berhenti, jalan terus!.

QUO VADIS

Kunjungan Statistik

Online

IKLAN USAHA ANDA


PAGAR LAUT INDONESIA

~> Sekarang Lagi Heboh Tentang Pagar Laut Yang Terjadi Di Indonesia

<~ Memang Harus Jelas Apa Maksudnya Laut Dipagar, Karena Seharusnya Yang Dipagar itu Batas Wilayah Indonesia Dengan Negara Lain

Link Terkait

close
Banner iklan disini