Film horor “Dosa: Penebusan atau Pengampunan” dijadwalkan tayang pada 11 Juni 2026. Film produksi HAS Pictures dan HAS Creative itu menandai debut penyutradaraan Sondang Pratama di layar lebar.
Trailer dan poster terbaru film ini diperkenalkan dalam acara peluncuran beberapa waktu lalu. Nuansa gelap, konflik keluarga, hingga adegan berdarah langsung menjadi sorotan penonton yang hadir di lokasi.
Konflik Menantu dan Mertua Jadi Pintu Teror
Berbeda dari horor jump scare biasa, film ini membuka cerita lewat konflik rumah tangga yang terasa dekat dengan keseharian. Hubungan menantu dan mertua dijadikan pintu masuk menuju teror psikologis yang lebih dalam.
“Karena secara psikologis konflik itu mudah dipahami penonton,” ujar Sondang Pratama saat menjelaskan alasan memilih tema tersebut.
Di tengah maraknya horor yang hanya mengandalkan suara keras dan visual ekstrem, pendekatan seperti ini justru terasa menarik. Penonton seperti diajak masuk perlahan ke ruang gelap yang akrab, lalu diseret ke situasi yang makin tidak nyaman.
Film “Dosa: Penebusan atau Pengampunan” dibintangi Ratu Sofya, Riza Irsyadillah, Revaldo Fifaldi Surya Permana, Jennifer Eve, dan Dominique Sanda.
Kecelakaan di Perbukitan Berujung Mimpi Buruk
Cerita berpusat pada Bima dan Ersya yang memutuskan pergi ke luar kota meski sudah diperingatkan sang ibu, Nungki. Keputusan itu berubah menjadi petaka setelah mobil mereka mengalami kecelakaan di kawasan perbukitan.
Dalam kondisi terluka, keduanya terdampar di hotel tua misterius. Di tempat itu, mereka mulai diteror penampakan ganjil, pesan misterius, hingga sosok algojo tak kasat mata yang perlahan membuka rahasia masa lalu mereka.
Irish Bella yang kali ini menjadi produser eksekutif mengaku pengalaman tersebut memberi sudut pandang berbeda baginya di industri film.
“Biasanya sebagai pemain, sekarang harus menjaga syuting agar lancar,” kata Irish Bella. Ia juga menilai efek CGI dan atmosfer film membawa pesan tentang penyesalan dan pertobatan.
Bagi penonton film horor Indonesia, tema dosa dan hukuman sebenarnya bukan hal baru. Namun, kombinasi drama keluarga dan horor psikologis dalam film ini memberi ruang tafsir yang lebih personal. Ada rasa takut yang datang bukan hanya dari makhluk gaib, melainkan dari keputusan manusia sendiri.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto




























