Kebiasaan terbangun berkali-kali untuk buang air kecil pada malam hari atau nokturia kerap dianggap wajar seiring bertambahnya usia. Namun sejumlah studi medis menunjukkan kondisi itu bisa berkaitan dengan gangguan tidur, penumpukan cairan tubuh, hingga meningkatnya risiko penyakit jantung.
Masalah tersebut banyak dialami kelompok usia di atas 50 tahun. Dalam sejumlah kasus, penderita mengurangi konsumsi air sebelum tidur, tetapi tetap terbangun beberapa kali setiap malam. Kondisi itu memicu kelelahan, kualitas tidur buruk, dan penurunan daya tahan tubuh.
Nokturia Tidak Selalu Dipicu Banyak Minum
Sejumlah anggapan lama soal sering buang air kecil di malam hari mulai dipertanyakan. Salah satunya keyakinan bahwa penyebab utama berasal dari kebiasaan minum menjelang tidur.
Dalam laporan yang dikutip dari penelitian urologi di Inggris, pengurangan minum sebelum tidur hanya memberi dampak terbatas terhadap frekuensi bangun malam. Perbedaannya disebut sekitar 11 persen dibanding orang yang tetap minum normal.
Selain itu, gangguan ini juga sering dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal. Padahal, beberapa dokter menilai penyebabnya bisa lebih kompleks, termasuk perubahan respons kandung kemih dan distribusi cairan tubuh pada usia lanjut.
Penelitian di Jepang terhadap lebih dari 2.000 responden usia di atas 50 tahun juga menemukan kaitan antara gangguan tidur akibat nokturia dengan peningkatan risiko serangan jantung dalam jangka panjang.
Penumpukan Cairan di Kaki Jadi Faktor Penting
Salah satu penjelasan medis yang mulai banyak dibahas adalah akumulasi cairan di area kaki sepanjang hari. Cairan itu kemudian kembali ke aliran darah saat tubuh berbaring dan akhirnya diproses ginjal menjadi urine pada malam hari.
Selain itu, otot detrusor atau otot kandung kemih disebut dapat menjadi lebih sensitif setelah usia 55 tahun. Akibatnya, kandung kemih memberi sinyal penuh lebih cepat meski volume urine belum maksimal.
Beberapa metode non-obat mulai banyak diperkenalkan untuk membantu mengurangi frekuensi bangun malam. Teknik tersebut antara lain mengangkat kaki sebelum tidur, latihan pernapasan 4-7-8, hingga teknik pengosongan kandung kemih ganda.
Meski demikian, dokter mengingatkan bahwa nokturia yang terjadi terus-menerus tetap perlu diperiksa lebih lanjut. Kondisi itu dapat berkaitan dengan diabetes, gangguan prostat, infeksi saluran kemih, gagal jantung, hingga efek samping obat tertentu.
Gangguan buang air kecil di malam hari bukan sekadar persoalan usia atau kebiasaan minum sebelum tidur. Sejumlah penelitian menunjukkan ada faktor biologis dan sirkulasi cairan tubuh yang berperan. Karena itu, pemeriksaan medis tetap penting dilakukan jika frekuensi bangun malam terus meningkat dan mengganggu kualitas tidur.
Penulis Lakalim Adalin
Editor Arianto





























