Muhammad Imam Roghibi As-Siddiqie atau Gus Ibi menilai dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tahun 2026 terlalu berpusat pada figur calon pemimpin. Menurut dia, pembahasan publik seharusnya diarahkan pada visi, gagasan, dan arah gerakan organisasi di masa depan.
Pernyataan itu disampaikan Gus Ibi saat ditemui di Pondok Pesantren MIS Sarang, Kamis, 7 Mei 2026. Ia mengatakan NU di abad kedua membutuhkan kepemimpinan yang memahami tantangan zaman sekaligus tetap berpijak pada tradisi pesantren.
Gus Ibi Ingatkan NU Butuh Arah, Bukan Sekadar Figur
Menurut Gus Ibi, atmosfer menjelang muktamar mulai dipenuhi pembicaraan soal siapa yang layak memimpin PBNU. Padahal, kata dia, persoalan mendasar justru menyangkut arah gerakan NU menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan geopolitik global.
“Kalau kita hanya sibuk pada figur tanpa membedah gagasan, maka kita sedang menyiapkan masalah baru di masa depan,” ujar Gus Ibi.
Ia mengibaratkan NU bukan hanya membutuhkan sopir yang piawai, tetapi juga “mesin baru” serta arah perjalanan yang jelas. Analogi itu, menurutnya, penting karena organisasi sebesar NU tidak cukup hanya mengandalkan popularitas figur.
Di sejumlah forum pesantren belakangan, isu regenerasi kepemimpinan PBNU memang mulai ramai dibahas. Namun, percakapan di tingkat akar rumput sering kali berhenti pada nama besar tokoh, bukan pada peta program lima tahun mendatang.
Dukungan kepada Gus Muhaimin dan Akar Pesantren
Gus Ibi juga menekankan pentingnya kepemimpinan PBNU yang memiliki kedekatan dengan dunia pesantren dan dzuriyah muasis atau keturunan pendiri NU. Faktor itu dinilai penting agar ruh perjuangan NU tidak terlepas dari akar sejarahnya.
Sebagai bentuk sikap politik organisasi, Gus Ibi menyampaikan dukungan kepada Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin. Ia menilai Muhaimin memiliki pengalaman organisasi, pemerintahan, dan kedekatan kuat dengan kultur pesantren.
“NU butuh pemimpin yang tidak hanya kuat secara simbolik, tapi juga punya roadmap yang jelas untuk lima tahun ke depan,” katanya.
Menurut Gus Ibi, tantangan NU saat ini bukan hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga menjawab disrupsi teknologi, krisis moral, dan perubahan geopolitik. Karena itu, Muktamar ke-35 NU diharapkan melahirkan konsensus strategis, bukan sekadar pergantian kepemimpinan.
Penulis: Lakalim Adalin
Editor: Arianto





























