Forum Pemuda Kalimantan Barat (FPKB) merayakan ulang tahun ke-15 melalui pagelaran budaya bertajuk “Simfoni Nusantara: Merajut Kepedulian, Melestarikan Warisan Budaya” di Jakarta, Minggu, 17 Mei 2026. Acara itu tak sekadar seremoni organisasi, tetapi juga menjadi panggung konsolidasi sosial komunitas perantau Kalimantan Barat yang kini telah tersebar di 21 provinsi.
Di tengah menguatnya polarisasi sosial dan identitas di ruang digital, FPKB justru memilih jalur berbeda. Organisasi ini mendorong budaya sebagai alat perekat lintas suku, agama, dan kelompok masyarakat. Tema “Bersatu dalam Budaya, Bergerak untuk Kalbar Maju” menjadi pesan utama yang terus digaungkan sepanjang acara.
FPKB Bangun Solidaritas Perantau Lewat Gerakan Sosial
Ketua panitia, Pdt Paran Sakiu, mengatakan FPKB sejak awal dibangun sebagai ruang bersama yang menghargai perbedaan. Menurut dia, keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan sosial yang bisa disatukan seperti harmoni musik.
“Forum Pemuda Kalimantan Barat multi-etnis, multi-agama, ibarat musik. Kalau semua digabungkan, diharmonisasikan, maka semuanya indah,” ujar Paran dalam sambutannya.
Paran menuturkan FPKB selama 15 tahun aktif menjalankan kegiatan sosial, bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah lain. Di balik gemerlap ibu kota, kata dia, masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan bantuan nyata.
Suasana itu terasa cukup emosional ketika sejumlah anak tampil membawakan pertunjukan budaya daerah. Di sudut ruangan, beberapa tamu terlihat merekam penampilan mereka dengan telepon genggam sambil sesekali bertepuk tangan. Bagi sebagian perantau Kalbar, momen seperti itu menjadi pengingat kampung halaman yang jarang mereka temui di Jakarta.
Daud Yordan dan Petrus Ungkap Perjalanan FPKB
Pembina FPKB, Daud Yordan, menyebut organisasi tersebut lahir dari keresahan anak-anak muda Kalimantan Barat yang merantau ke ibu kota. Ia mengingat bagaimana pendiri FPKB, Dr. Petrus, S.H., M.H., mulai mengumpulkan para pemuda daerah untuk membangun wadah solidaritas bersama.
“Forum Pemuda Kalimantan Barat ini menjadi contoh nyata bagaimana kita dalam perantauan mampu merangkul semua golongan untuk bersama-sama membantu masyarakat,” kata Daud Yordan.
Menurut dia, perkembangan FPKB cukup cepat. Dari organisasi kecil di Jakarta pada 2011, kini jaringan mereka telah hadir di 21 provinsi dengan berbagai program sosial dan pendidikan.
Sementara itu, Pendiri FPKB, Dr. Petrus, S.H., M.H., mengatakan organisasinya kini memiliki yayasan sosial, sekolah TK dan PAUD, lembaga bantuan hukum, rumah singgah, hingga layanan ambulans gratis di sejumlah daerah.
“Saya terlahir dari keluarga tidak mampu. Karena itu saya ingin hidup ini berarti bagi orang lain tanpa memandang suku, agama, dan jabatan,” ujar Petrus.
FPKB juga berencana mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum sebagai bagian dari pengembangan organisasi sosial berbasis pendidikan dan kemanusiaan.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto




























