PT Ace Oldfields Tbk (KUAS) memutuskan membagikan dividen tunai Rp1,5 per saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026. Keputusan itu diambil di tengah pertumbuhan penjualan yang masih bergerak positif sepanjang 2025, meski laba bersih perusahaan mulai tertekan kenaikan biaya operasional.
Emiten berkode saham KUAS tersebut membukukan pendapatan Rp187,02 miliar pada 2025, naik tipis dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp184,7 miliar. Namun laba bersih turun menjadi Rp10,5 miliar dari Rp11,3 miliar pada 2024.
Margin PT Ace Oldfields Mulai Menyempit
Direktur KUAS, Albert Kandiawan, mengakui kenaikan penjualan belum sepenuhnya mampu menopang profitabilitas perusahaan. “Namun, di balik kenaikan penjualan, laba bersih justru turun menjadi Rp10,5 miliar dari Rp11,3 miliar pada 2024. Penurunan menandai tekanan biaya yang mulai menggerus profitabilitas Perseroan,” ujar Albert.
Di kalangan pelaku industri manufaktur, situasi seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah emiten sektor perlengkapan rumah tangga dan bahan bangunan juga mulai menghadapi kenaikan biaya distribusi serta bahan baku sejak akhir tahun lalu. Seorang analis pasar modal bahkan menyebut kondisi sekarang mirip “jualan ramai, tapi napas makin pendek”.
Meski demikian, secara operasional perusahaan masih mencatat pertumbuhan. Laba kotor naik menjadi Rp58,5 miliar dari Rp54,2 miliar. Kenaikan ini menunjukkan permintaan produk perlengkapan pengecatan masih cukup terjaga di pasar domestik.
Aset perusahaan juga meningkat 7,63 persen menjadi Rp299,37 miliar. Namun perhatian investor tertuju pada kenaikan liabilitas jangka panjang sebesar 25,64 persen yang dinilai berpotensi menekan arus kas apabila pertumbuhan pendapatan melambat.
Strategi KUAS pada 2026: Distribusi dan Digitalisasi
Menghadapi 2026, KUAS menargetkan penjualan Rp192 miliar. Target tersebut tergolong konservatif di tengah kondisi daya beli dan persaingan industri yang belum sepenuhnya stabil.
Perusahaan akan memperluas distribusi, memperkuat loyalitas pelanggan, serta meningkatkan pemasaran digital untuk mendongkrak brand awareness. Kolaborasi dengan pabrik cat juga disiapkan guna memperluas penetrasi pasar.
Selain itu, perusahaan menyiapkan program promosi seperti undian umroh untuk menjaga minat konsumen. Strategi ini memperlihatkan upaya perseroan membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat, bukan sekadar mengandalkan pertumbuhan penjualan tahunan.
Namun tantangan terbesar tetap berada pada efisiensi biaya. Di industri yang kompetitif, kenaikan penjualan tanpa pengendalian beban operasional berisiko membuat pertumbuhan laba berjalan di tempat.
Reporter: Lakalim Adalin
Editor: Arianto





























